Rabu, 27 Desember 2017

Medilog 1943 karya Tan Malaka (pdf download).

Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam 
dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan 
kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis 
Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 
hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. 
Buku yang lain ialah Gabungan Aslia sudah pula setengah di tulis. Tetapi terpaksa 
ditunda. Sebab yang pertama karena kehabisan uang. Kedua sebab sang Polisi, Yuansa namanya 
diwaktu itu, sudah 2 kali datang memeriksa dan menggeledah rumah lebih tepat lagi “pondok’’ 
tempat saya tinggal. Lantaran huruf madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di 
tempat yang tiada mengambil perhatian sama sekali, maka terlindung ia dari mata polisi. 
Terpeliharalah pula kedua kitab itu dan pengarangnya sendiri seterusnya dari mata dan tongkat kempei Jepang. 
Lantaran hawa kediaman saya itu sudah agak panas dan bahaya kelaparan sudah 
mengintip, maka terpaksalah saya memberhentikan pekerjaan saya meneruskan menulis Gabungan Aslia. Saya bertualang di daerah Banten mencari nafkah sambil memperlindungkan diri pula. 
Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang Arang, Bayah. Disinilah saya mendapat 
pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha biasa, (maklumlah orang tak punya diploma dan surat 
keterangan!) sampai menjadi pengurus semua romusha dan penduduk kota Bayah dan sekitarnya 
dalam hal makanan, kesehatan, pulang-pergi dan sakit matinya romusha ribuan orang, dengan 
perantaraan kantor urusan prajurit pekerja. 
Sebagai ketua Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan Badan Pembantu Prajurit Pekerja 
(BP3), saya akhirnya sampai dipilih menjadi wakil daerah Banten ke kongres Angkatan Muda yang dijanjikan di Jakarta, tetapi tak jadi itu (bulan Juni 1945). Disinilah saya berjumpa dengan 
pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, dll. yang sekarang mengambil bagian dalam pergerakan 
Persatuan Perjuangan. Juga dengan pemuda lainnya umpamanya seorang jurnalis yang amat 
dikenal di sekitar Bayah ketika itu, tak lebih dan tak kurang dari Bang Bejat, alias Anwar 
Tjokroaminoto dan saudaranya. Resan minyak ke minyak, resan air ke air, kata pepatah. 
Demikianlah pengarang ini yang pada masa Jepang itu memperkenalkan dirinya dengan 
nama ILJAS HUSSEIN, dengan jalan memutar sampai juga ke golongan yang dicari yang mulai 
mengambil bagian besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 
1945, ialah golongan pemuda. Pekerjaan revolusioner di samping pemuda itu sampai sekarang terus berlaku, yakni Persatuan Perjuangan yang sudah mulai menulis sejarah. Atas permintaan pemuda pulalah Madilog sekarang akan disebarkan di antara mereka yang rasanya sanggup menerimanya. 
Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang 
setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi 
ke Bayah Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka 
palsu bahkan hampir saja Madilog hilang. 
Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada 
mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati 
lapang dan seksama serta akhirnya berkemauan keras buat memahaminya. 

TAN MALAKA 
Lembah Bengawan Solo, 15 Maret 1946.
**********
Itulah sepenggal kisah buku karya Tan Malaka yang fenomenal negeri ini berjudul Medilog
Bagi Anda ingin mendownloadnya silahkan
*Disini*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Judule mbuh

https://youtu.be/A-Q6AnJBSfQ