Memetik File
Cari saja yang agan cari mungkin disini ada....
Selasa, 27 November 2018
Kamis, 25 Januari 2018
Dibawah bendera revolusi (pdf download)
Semenjak 40 tahun yang lampau – waktu itu Bung Karno masih belajar di Hogere Burgerschool (H.B.S.) Surabaya – beliau sudah mulai gemar mengarang. Kegemaran itu bertambah lagi semasa beliau menjadi mahasiswa Technische Hogeschool (T.H.S.) di Bandung. Kemudian datanglah zaman yang dalam sejarah kehidupan Bung Karno dapat dianggap masa mencurahkan pikiran dalam karang-mengarang, yaitu semasa Bung Karno bersama-sama dengan kawan-kawan sepaham beliau, mendirikan dan menggerakkan Partai Nasional Indonesia (P.N.I.) dan Partai Indonesia (Partindo) serta semasa beliau diasingkan ke Ende dan akhirnya ke Bengkulen.Suatu kenyataan sekarang ialah – bahwa Bung Karno sendiri sama sekali tidak lagi menyimpan karangan-karangan tersebut. Beberapa karangan yang telah dapat dikumpulkan semasa Bung Karno mulai menjalankan hukuman pembuangan, terpaksa ditinggalkan dan kemudian hilang tidak berketentuan karena tempat beliau yang sering berpindah-pindah. Demikian pula sahabat-sahabat-karib beliau serta perpustakaan-perpustakaan umum, tidak banyak yang menyimpan karangan-karangan Bung Karno. Dalam berapa tahun terakhir ini, oleh perseorangan, pernah sebagian dari karangan-karangan tersebut diterbitkan dalam bentuk brosur. Karena mengingat – bahwa buah-fikiran Bung Karno baik yang berbentuk sebagai karangan maupun yang berupa pidato-pidato dari semenjak zaman penjajahan hingga pada saat ini, belum pernah diterbitkan dalam bentuk yang teratur – sedangkan keinginan untuk itu oleh sahabat-sahabat-karib Bung Karno serta oleh khalayak ramai berkali-kali diajukan kepada beliau – maka kami mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas tersebut. Semenjak lima tahun yang lampau, kami telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menunaikan kewajiban tersebut sebaik-baiknya. Dalam melaksanakan tugas tersebut ternyata – bahwa tidak sedikit kesukaran yang harus kami hadapi. Pada zaman penjajahan, untuk menyimpan karangan-karangan para pemimpin pergerakan terutama buah pena Bung Karno – diperlukan keberanian bagi para penyimpannya. Lagi pula, karangan-karangan Bung Karno tersebut tidak pernah ada dalam satu tangan. Berdasarkan itulah, maka usaha pengumpulan ini tidak seluruhnya dapat berhasil baik dan sempurna. Selama lima tahun terus-menerus telah dilakukan hubungan dan surat-menyurat dengan alamat-alamat di dalam dan di luar negeri dengan pengharapan agar supaya usaha pengumpulan buah pikiran Bung Karno dapat lebih diperlengkap. Walaupun mereka yang dihubungi selalu menunjukkan kesediaan untuk memberi bantuan sebanyak mungkin, namun hingga pada saat ini, belum juga diperoleh hasil untuk mengumpulkan buah pena Bung Karno yang ditulis antara tahun 1917 hingga tahun 1925. Bahkan karangan-karangan dalam tahun-tahun berikutnyapun masih ada beberapa yang belum terkumpul. Ini berarti bahwa kumpulan buah pikiran Bung Karno – yang oleh beliau diberi nama: “DI BAWAH BENDERA REVOLUSI”, belumlah merupakan kumpulan yang lengkap dan sesempurna-sempurnanya. Akan tetapi dengan pertimbangan – bahwa untuk menanti sampai terkumpulnya seluruh buah pikiran Bung Karno masih memerlukan waktu yang lama – maka sebagai langkah pertama, buku: “DI BAWAH BENDERA REVOLUSI” ini (terdiri dari dua jilid), kami persembahkan kepada masyarakat Indonesia, dengan pengertian, kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku ini mudah-mudahan dapat disempurnakan dalam penerbitan lainnya. Patut dijelaskan bahwa Bung Karno tidak mempunyai kesempatan penuh untuk membaca kembali seluruhnya karangan-karangan beliau yang dimuat dalam buku ini.Akhirulkalam, kepada semua fihak, baik di dalam maupun di luar negeri serta handai-taulan yang hingga pada saat terbitnya buku ini dengan ikhlas telah memberikan sumbangan dan bantuan, dengan ini kami sampaikan ucapan banyak terima kasih, karena dengan tiada bantuan itu maka penerbitan “DI BAWAH BENDERA REVOLUSI” tidaklah mungkin selengkap seperti sekarang ini.
Jakarta, 17 Agustus 1959
Download full PDFnya Disini.
Kamis, 28 Desember 2017
Soekarno penjambung lidah rakyat (pdf download).
TJARA jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan
melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.
Sukarno adalah seorang manusia perasaan. Seorang pengagum. Ia menarik napas pandjang apabila menjaksikan pemandangan jang indah. Djiwanja bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia. Ia menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.
Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman. "Akan tetapi aku bersjukur kepada Jang Maha Pentjipta, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta
rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali kemerdekaan dan hak-azasinja, setelah tiga setengah abad dibawan pendjadjahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi ditahun 1945 dan mentjiptakan suatu Negara Indonesia jang bersatu, jang terdiri dari pulau Djawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan
Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?
Irama suatu-revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek.
Dan didalam djiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan djiwa seni. Kepandaian memimpin suatu revolusi hanja dapat ditjapai dengan rnentjari ilham dalam segala sesuatu jang dilihat. Dapatkah orang memperoleh ilham dalam sesuatu, bilamana ia bukan seorang manusia-perasaan dan bukan manusia-seni barang sedikit ?.
Namun tidak setiap arang setudju dengan gambaran Sukarno tentang diri Sukarno. Tidak semua orang menjadari, bahwa djalan untuk mendekatiku adalah semata-mata melalui hati jang ichlas. Tidak semua orang menjadari, bahwa aku ini tak ubahnja seperti anak ketjil. Berilah aku sebuah pisang dengan sedikit simpati jang keluar dari lubuk-hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.
Akan tetapi berilah aku seribu djuta dollar dan disaat itu pula engkau tampar mukaku dihadapan umum, maka sekalipun ini njawa tantangannja aku akan berkata kepadamu, "Persetan !"
Manusia Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kamilah satu-satunja bangsa didunia jang mempunjai sedjenis bantal jang dipergunakan sekedar untuk dirangkul. Disetiap tempat-tidur orang Indonesia terdapat
sebuah bantal sebagai kalang hulu dan sebuah lagi bantal ketjil berbentuk bulat-pandjang jang dinamai guling. Guling ini bagi kami gunanja hanja untuk dirangkul sepandjang malam.
Aku mendjadi orang jang paling menjenangkan didunia ini, apabila aku merasakan arus persahabatan, sirnpati terhadap persoalan-persoalanku, pengertian dan penghargaan datang menjambutku. Sekalipun ia tak
diutjapkan, ia dapat kurasakan. Dan sekalipun rasa-tidak-senang itu tidak diutjapkan, aku djuga dapat merasakannja. Dalam kedua hal itu aku bereaksi menurut instink. Dengan satu perkataan jang lembut, aku akan melebur. Aku bisa keras seperti badja, tapi akupun bisa sangat lunak.
Seorang diplomat tinggi Inggris masih belum menjadari, bahwa kuntji menudju Sukarno akan berputar dengan mudah, kalau ia diminjaki dengan perasaan kasih-sajang. Dalam sebuah suratnja belum lama berselang jang ditudjukan ke Downing Street 10 ia menulis, "Presiden Sukarno tidak dapat dikendalikan, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus jang terdesak.
"Suatu utjapan jang sangat bagus bagi seseorang jang telah mempersembahkan seluruh hidupnja kepangkuan tanah-airnja, orang jang 13 tahun lamanja meringkuk dalam pendjara dan pembuangan, karena ia mengabdi
kepada suatu tjita-tjita. Mungkin aku tidak sependapat dan sependirian dengan dia tetapi seperti seekor tikus ? Djantungku berhenti mendenjut ketika surat itu sampai ditanganku. Ia mengachiri suratnja dengan
mengatakan, bahwa ia telah mengusahakan agar Sukarno mendapat perlakuan jang paling buruk dalam surat-surat kabar.
"Aku tidak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat lagi tidur barang sekedjap. Kadang-kadang, dilarut
tengah malam, aku menelpon seseorang jang dekat denganku seperti misalnja Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, "Bandrio, datanglah ketempat saja, temani saja, tjeritakan padaku sesuatu jang gandjil, tjeritakanlah suatu lelutjon, bertjeritalah tentang apa sadja asal djangan mengenai politik. Dan
kalau saja tertidur, ma'afkanlah." Aku membatja setiap malam, berpikir setiap malam dan aku sudah bangun lagi djam lima pagi. Untuk pertamakali dalam hidupku aku mulai makan obat-tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.
Aku bukan manusia jang tidak mempunjai kesalahan. Setiap machluk membuat kesalahan. Dihari-hari keramat aku minta ma'af kepada rakjatku dimuka umum atas kesalahan jang kutahu telah kuperbuat, dan atas kekeliruan-kekeliruan jang tidak kusadari. Barangkali suatu kesalahanku ialah, bahwa aku selalu mengedjar suatu tjita-tjita dan bukan persoalan-persoalan jang dingin. Aku tetap mentjoba untuk
menundukkan keadaan atau mentjiptakan lagi keadaan-keadaan, sehingga ia dapat dipakai sebagai djalan untuk mentjapai apa jang sedang dikedjar. Hasilnja, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakjatku, aku mendjadi korban dari serangan-serangan jang djahat.
Orang bertanja, "Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila orang mengeritikmu ?" Sudah tentu aku merasa tersinggung. Aku bentji dimaki orang. Bukankah aku bersifat manusia seperti djuga setiap manusia lainnja ? Bahkan kalau engkau melukai seorang Kepala Negara, ia akan lemah. Tentu aku ingin disenangi orang. Aku mempunjai ego. Itu kuakui. Tapi tak seorangpun tanpa ego dapat menjatukan 10.000
pulau-pulau mendjadi satu Kebangsaan. Dan aku angkuh. Siapa pula jang tidak angkuh ? Bukankah setiap orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian ?. Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan jang bertentangan tentang diriku.
Kadang-kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana jang harus dipertjajainja. Jang pertama berasal dari madjalah "Look". "Look" menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang betja jang mengatakan seakan-akan segala sesuatu di
Indonesia sangat menjedihkan keadaannja dan orang-orang kampungpun sekarang sudah muak terhadap Sukarno.
Kusudahi membatja artikel itu pada djam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berdjalan-djalan selama setengah djam, seperti biasanja kulakukan dalam lingkungan istana-inilah satu-satunja matjam gerak badan bagiku seorang pedjabat polisi jang sangat gugup dibawa masuk. Sambil berdjalan kutanjakan kepadanja, apa jang sedang dipikirkannja."Ja, Pak," ia memulai, "Sebenarnja kabar baik." "Apa
maksudmu dengan sebenarnja kabar baik ?" tanjaku. "Ja," katanja, "Rakjat sangat menghargai Bapak. Mereka mentjintai Bapak. Dan terutama rakjat-djelata. Saja mengetahui, karena saja baru menjaksikan sendiri suatu keadaan jang menundjukkan penghargaan terhadap Bapak. Kemudian ia berhenti. "Teruslah," desakku,
"Katakan padaku.
Darimana engkau dan siapa jang kautemui dan apa jang mereka lakukan ?" "Begini, Pak," ia mulai lagi. "Kita mempunjai suatu daerah, dimana perempuan-perempuan latjur semua ditempatkan setjara berurutan. Kami memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah mendjadi tugas kami untuk mengadakan
pengawasan tetap. Kemarin suatu kelompok memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa jang mereka temui - Mereka menjaksikan potret Bapak, Pak. Digantungkan didinding." "Dimana aku digantungkan ?" tanjaku kepadanja. "Ditiap kamar, Pak. Ditiap kamar terdapat, sudah barang tentu, sebuah tempat-tidur.
Dekat tiap randjang ada medja dan tepat diatas medja itu disitulah gambar Bapak digantungkan. "Dengan gugup ia mengintai kepadaku sambil menunggu perintah. "Pak, kami merasa bahagia karena rakjat kita memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wadjar kalau gambar Presiden kita digantungkan didinding rumah pelatjuran. Apa jang harus kami kerdjakan ? Apakah akan kami pindahkan
gambar Bapak dari dinding-dinding itu ?" "Tidak," djawabku. "Biarkanlah aku disana. Biarkan mataku jang tua dan letih itu memandangnja! "Tidak seorangpun dalam peradaban modern ini jang menimbulkan demikian banjak perasasn pro dan kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipudja bagai Dewa. Tidak
djarang kakek-kakek datang berkundjung kepadaku sebelum mereka imengachiri hajatnja. Seorang nelajan jang sudah tua, jang tidak mengharapkan pudjian atau keuntungan, berdjalan kaki 23 hari lamanja sekedar
hanja untuk sudjud dihadapanku dan mentjium kakiku. Ia menjatakan, bahwa ia telah berdjandji pada dirinja sendiri, sebelum mati ia akan melihat wadjah Presidennja dan menundjukkan ketjintaan serta kesetiaan kepadanja. Banjak jang pertjaja bahwa aku seorang Dewa, mempunjai kekuatan-kekuatan sakti jang menjembuhkan.
Itulah sepenggal buku berjudul Soekarno penjambung lidah rakyat karya Cindy Adams.
Download segera Disini.
Rabu, 27 Desember 2017
Medilog 1943 karya Tan Malaka (pdf download).
Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam
dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan
kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis
Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15
hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari.
Buku yang lain ialah Gabungan Aslia sudah pula setengah di tulis. Tetapi terpaksa
ditunda. Sebab yang pertama karena kehabisan uang. Kedua sebab sang Polisi, Yuansa namanya
diwaktu itu, sudah 2 kali datang memeriksa dan menggeledah rumah lebih tepat lagi “pondok’’
tempat saya tinggal. Lantaran huruf madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di
tempat yang tiada mengambil perhatian sama sekali, maka terlindung ia dari mata polisi.
Terpeliharalah pula kedua kitab itu dan pengarangnya sendiri seterusnya dari mata dan tongkat kempei Jepang.
Lantaran hawa kediaman saya itu sudah agak panas dan bahaya kelaparan sudah
mengintip, maka terpaksalah saya memberhentikan pekerjaan saya meneruskan menulis Gabungan Aslia. Saya bertualang di daerah Banten mencari nafkah sambil memperlindungkan diri pula.
Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang Arang, Bayah. Disinilah saya mendapat
pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha biasa, (maklumlah orang tak punya diploma dan surat
keterangan!) sampai menjadi pengurus semua romusha dan penduduk kota Bayah dan sekitarnya
dalam hal makanan, kesehatan, pulang-pergi dan sakit matinya romusha ribuan orang, dengan
perantaraan kantor urusan prajurit pekerja.
Sebagai ketua Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan Badan Pembantu Prajurit Pekerja
(BP3), saya akhirnya sampai dipilih menjadi wakil daerah Banten ke kongres Angkatan Muda yang dijanjikan di Jakarta, tetapi tak jadi itu (bulan Juni 1945). Disinilah saya berjumpa dengan
pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, dll. yang sekarang mengambil bagian dalam pergerakan
Persatuan Perjuangan. Juga dengan pemuda lainnya umpamanya seorang jurnalis yang amat
dikenal di sekitar Bayah ketika itu, tak lebih dan tak kurang dari Bang Bejat, alias Anwar
Tjokroaminoto dan saudaranya. Resan minyak ke minyak, resan air ke air, kata pepatah.
Demikianlah pengarang ini yang pada masa Jepang itu memperkenalkan dirinya dengan
nama ILJAS HUSSEIN, dengan jalan memutar sampai juga ke golongan yang dicari yang mulai
mengambil bagian besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus
1945, ialah golongan pemuda. Pekerjaan revolusioner di samping pemuda itu sampai sekarang terus berlaku, yakni Persatuan Perjuangan yang sudah mulai menulis sejarah. Atas permintaan pemuda pulalah Madilog sekarang akan disebarkan di antara mereka yang rasanya sanggup menerimanya.
Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang
setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi
ke Bayah Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka
palsu bahkan hampir saja Madilog hilang.
Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada
mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati
lapang dan seksama serta akhirnya berkemauan keras buat memahaminya.
TAN MALAKA
Lembah Bengawan Solo, 15 Maret 1946.
**********
Itulah sepenggal kisah buku karya Tan Malaka yang fenomenal negeri ini berjudul Medilog
Bagi Anda ingin mendownloadnya silahkan
*Disini*
Bagi Anda ingin mendownloadnya silahkan
*Disini*
Gerpolek oleh Tan Malaka (pdf download).
Sudah kepinggir kita terdesak!
Sampailah konon sisa ruangan yang tinggal bagi kita dalam hal politik, ekonomi, keuangan, dan
kemiliteran. Inilah hasilnya lebi7h dari pada dua tahun berunding!!!!
Lenyaplah sudah persatuan Rakyat untuk menentang kapitalisme-imperialisme! Lepaslah sebagian besar daerah Indonesia ke bawah kekuasaan musuh. Kembalilah sebagian besar bangsa Indonesia ke bawah pemerasan-tindasan Belanda. Berdirilah pelbagai Negara boneka dalam daerah Indonesia, yang boleh diadu-dombakan satu dengan lainnya! Kacau-balaulah perekonomian dan keuangan dalam
daerah Republik sisa. Akhirnya, tetapi tak kurang pula pentingnya terancamlah pula Tentara Republik oleh tindakan REORGANISASI DAN RATIONALISASI yang dalam hakekatnya menukar Tentara Republik menjadi tentara Kolonial: SATU TENTARA TERPISAH DARI RAKYAT UNTUK
MENINDAS RAKYAT ITU SENDIRI.
Alangkah besar perbedaannya keadaan sekarang dengan keadaan pada enam bulan permulaan
Revolusi!!!!!!
Dikala itu 70 juta Rakyat Indonesia bertekat satu menentang kapitalisme/imperialisme! Segala alat dan sumber kekuasaan berada di tangan Rakyat Indonesia. Semua sumber ekonomi dipegang oleh Rakyat sendiri. Seluruhnya Rakyat serentak mengambil inisiatif membentuk laskar dan Tentara, mengadakan penjagaan di sepanjang pantai dan di tiap kota dan desa dan serentak-serempak mengadakan pembelaan
dan penyerbuan!!!!!.
Dapatkah dikembalikan semangat 17 Agustus? Sejarah sajalah kelak yang bisa memberi jawab!
Tetapi sementara putusan Sejarah itu dijalankan, maka kita sebagai manusia dan anggota masyarakat ini tak boleh diam berpangku tangan saja melihat gelombang memukul-mukul geladak Kapal Negara, yang sedang terancam karam itu.
Saya rasa salah satunya Daya-Upaya untuk menyelamatkan Kapal Negara yang terancam karam itu, ialah pembentukan Laskar Gerilya dimana-mana, di darat dan di laut! Perasaan perlunya dibentuk laskar Gerilya dimana-mana itulah yang sangat mendorong saya, merisalah “SANG GERILYA” ini!
Malangnya sedikit, penulis ini bukanlah seorang Ahli-Kemiliteran. cuma ada sedikit banyak bergaul
dengan prajurit di dalam ataupun di luar negeri dan memangnya selalu tertarik oleh ilmu kemiliteran. Pengetahuan yang dipakai buat membentuk risalah ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari percakapan dengan para prajurit itu serta dari pembacaan Buku dan Majalah Kemiliteran. Tetapi bukanlah hasil pembacaan yang masih segar-bugar. Melainkan sebagian besarnya adalah hasil pembacaan lebih dari pada 30 tahun lampau. Tertumbuklah kemauan penulis ini hendak menjadi opsir di masa berusia pemuda di Eropa, pada pelbagai halangan dan rintangan maka terbeloklah perhatian kepada pembacaan beberapa Buku dan Majalah Militer, dalam suasana Perang-Dunia Pertama. Pengetahuan yang diperoleh di masa itulah yang masih di pegang sekarang!!!!!
Pengetahuan itu memangnya mendapat beberapa perubahan selama bertahun-tahun di luar Negeri.
Tetapi tinggal pengetahuan lama dan keadaan berada di antara empat tembok batu di belakang ruji-besi ini sama sekali tak ada pustaka kemiliteran, untuk menguji kembali pengetahuan yang dipergunakan dalam Risalah ini sebagai bahan. Dalam keadaan begini, maka mungkin sekali beberapa Hukum Keprajuritan, yang terpaksa dibentuk sendiri itu kurang tepat atau kurang memadai. Tetapi mengharap dan percaya sungguh, bahwa para Ahli dan Pahlawan akan mengambil yang baiknya saja dan akan membuang yang buruk; seterusnya akan menambah yang kurang dan mengurangi yang berlebih. Kami mengharap dan percaya pula,
bahwa para Ahli dan Pahlawan akan memaafkan semua kekurangan dan kesalahan kami.
Pokok perkara buat kami dalam keadaan terpaksa terpisah dari Masyarakat ini, bukanlah terutama
MENYELESAIKAN soal Militer, sebagai bagian terpenting dari Revolusi ini, tetapi untuk
MEMAJUKAN soal ini.
Mudah-mudahan para-teman-seperjuangan yang lebih ahli dan lebih berpengalaman dalam keprajuritan itu, kelak akan mengambil inisiatif mengarang buku kemiliteran itu, yang lebih sempurna. Buku semacam itu perlu sekali buat mempopulerkan ilmu-keprajuritan di antara Rakyat serta Pemuda kita justru sekarang ini!!!
Perkara latihan dan teknik Perang sengaja tiada kami majukan disini! Dalam hal ini latihan-Jepang
selama dua-tiga tahun dan teristimewa pula latihan dan teknik perang selama dua-tiga tahun bertempur di medan peperangan Indonesia yang sesungguhnya itu, kami rasa sudah lebih dari pada memadai, dan diketahui oleh pulu ribuan prajurit kita sekarang. Yang kami majukan disini cuma beberapa Hukum-Kemiliteran yang kami rasa amat penting! Hukum Kemiliteran itulah, di samping pengetahuan yang lain-lain tentang politik dan ekonomi yang kami rasa harus dimiliki oleh SANG GERILYA, sebagai anggota atau pemimpin Laskarnya. Taktik Gerilya yang mengacau-balaukan Tentara Napoleon di Spanyol pada abad yang lalu; taktik
Gerilya sekepal Laskar-Boor yang mengocar-kacirkan Tentara Inggris yang kuat-modern pada
permulaan abad ini di Afrika-Selatan, taktik Gerilya yang memusing-menggila-bingungkan Tentara ber-mesinnya Fasis Jerman di Rusia pada perang Dunia kedua yang baru lalu ini.. Taktik
dan Laskar Gerilya adalah senjata yang maha-tajam bagi Rakyat Miskin tertindas; bersenjata serba sederhana saja, untuk menghalaukan musuh yang bersenjatakan modern.
Mudah-mudahan Risalah, yang tertulis tergesa-gesa dalam keadaan serba sulit ini akan memberikan
faedah kepada pemuda/pemudi, pahlawan-perwira pembela bangsa dan Masyarakat-Murba Indonesia
Raya!
Rumah Penjara Madiun, 17 Mei 1948
Penulis
T A N M A L A K A
************
Download selengkapnya Disini.
Selasa, 26 Desember 2017
Aksi Massa 1926 oleh Tan Malaka (pdf download).
Asia sudah bangun!
Lambat laun bangsa-bangsa Asia yang terkungkung itu tentu akan memperoleh kebebasan dan kemerdekaan. Tetapi tidak ada seorang pun
yang dapat mengatakan bilamana dan dimana bendera kemerdekaan yang pertama akan berkibar. Siapa yang menyelidiki sedalam-dalamnya perekonomian Timur, politik dan sosiologi akan dapat menunjukkan halkah rantai yang selemah-lemahnya dalam rentengan rantai panjang yang mengikat perbudakkan Timur. Indonesialah halkah rantai yang lemah itu. Di Indonesia benteng imperialisme Barat yang pertama dapat ditempur dengan berhasil.
Imperialisme Belanda lebih tua dan lebih kuno dari pada imperialisme Inggris dan Amerika, dipisahkan oleh satu lembah yang tak dapat
diseberangi dari jajahannya. Negeri Belanda, karena tidak mempunyai bahan-bahan untuk industrinya, dari dahulu hanya mengusahakan per
tanian dan perdagangan.
Penjabaran kapitalnya dari permulaan abad ini ke seluruh Indonesia sangat luasnya.
Pusat industri Belanda sekarang terletak di Indone sia, sedang pusat perdagangan dan keuangannya ada di negeri Belanda. Bankir, industrialis
dan saudagar tinggal di negeri Belanda, sedang buruh dan tani di Indonesia. Jika kita perhatikan kedua lautan yang memisahkan Be landa dengan
Indonesia itu, serta tidak pula kita lupakan perbedaan bangsa, agama, bahasa, adat-istiadat antara penjajah dan si terjajah, antara pemeras dan si terperas, tampaklah kepada kita satu perbandingan dari pergaulan yang luar biasa di dunia imperialisme waktu sekarang. Luar biasa, sebab kaum modal bumiputra tak ada. Jadi, titian antara negeri Belanda dengan Indonesia putus sama sekali. Ketiadaan kaum modal bumiputra yang sifatnya hampir bersamaan dengan imperialisme Belanda (sama-sama mau menggencet buruh dan tani) menyebabkan imperialisme Belanda sukar sekali membereskan krisis ekonomi di Indonesia. Dimanakah ada di Indonesia tuan-tuan tanah bumiputra seperti di Mesir, India dan Filipina yang dapat menunjang kaum imperialisme untuk membela kepentingan-kepentingan ekonomi mereka? Dan dimanakah ada kaum modal bumiputra yang kuat, yang meminta-minta kekuasaan dalam politik perekonomian-nya seperti di India?.
Tuan-tuan tanah Indonesia yang sedikit berarti telah lama menjadi gembala, kuli atau kuli tinta! Bangsa-bangsa Eropa, Tionghoa dan dan
Arab menguasai semua perdagangan besar, menengah ataupun kecil! Bangsa Indonesia yang menengah atau yang kecil telah lenyap dari Pulau
Jawa sejak beberapa tahun yang silam oleh pema sukan barang-barang pabrik dari Eropa.
Soal perguruan dengan sengaja dilengahkan oleh Belanda, kaum intelektual jadi kurang. Sebab itu, kendati pun kaum saudagar bumiputra
seperti India, mau menyokong mereka mendirikan industri, toh tidak akan berhasil.
Sebab ketiadaan kaum modal tuan tanah bumiputra itu, maka setiap aksi parlementer dari partai nasional ma na pun tidak berguna.
Bagaimanakah "bapak gula" dan "nenek minyak" di negeri Belanda akan dapat memberikan hak pemilihan umum kepada bangsa Indonesia?
Atau dengan lain arti: mempercayakan kekuasaan politik kepada wakil-wakil tani dan buruh yang miskin? Jika sekiranya di belakang kaum
intelektual, berdiri tuan-tuan tanah dan kaum modal bumiputra yang akan mereka wakili di parlemen, tentulah akan berlainan keadaan itu. Dan cakap angin tentang "perubahan dalam pemerintahan di Indonesia" ada juga artinya sedikit. Imperialis Belanda berangsur-angsur, lambat laun dapat menyerahkan pemerintahan itu kepada bangsa Indonesia yang cakap dan jujur. Bukan kah melindungi modal bumiputra, sebagian juga berarti melindungi modal bangsa asing? Di dalam nisbah sekarang ini nyatalah bahwa flap pemerintahan bangsa Indonesia haruslah tunduk
kepada kemauan modal asing yang besar-besar. Dan pemerintahan seperti itu tak akan diakui sebagai berasal dari rakyat dan oleh rakyat!
Pendeknya, Indonesia tak mempunyai faktor-faktor ekonomi, sosial ataupun intelektual buat melepaskan diri dari perbudakan ekonomi dan
politik di dalam lingkung an imperialisme Belanda. Bersamaan dengan itu, kans untuk mencapai kemerdekaan dalam arti yang seluas -luasnya
dengan jalan menguasai setengah, tiga perempat, hingga tujuh per delapan parlemen lenyap buat selama nya. Impian seorang makhluk seperti
Notosuroto yang mengangan-angankan Nederlandia Raja akan tetap jadi lamunan orang yang fasik.
Indonesia dapat menaikkan ekonominya jika kekua saan politik ada di tangan rakyat. Dan Indonesia akan mendapat kekuasaan politik tidak
dengan jalan apa pun, kecuali dengan aksi politik yang revolusioner lagi teratur, dan yang tidak mau tunduk.
Dewan Rakyat kadang-kadang boleh dimasuki! Teta pi bukan dipergunakan sebagai senjata yang sah untuk memperoleh pemerintahan
nasional yang bertanggung jawab penuh dengan perantaraan Dewan Rakyat bekerja sama dengan imperialis Belanda. Tetapi guna mengem
bangkan usaha revolusioner hingga ke dalam kamar-kamar diperoleh dengan perantaraan aksi-aksi parlementer samalah dengan seseorang di
Gurun Sahara yang mem bum fatamorgana. Tetapi siapa yang mempergunakan sekalian pengetahuannya untuk aksi massa yang teratur, niscaya memperoleh kemenangan itu seumpama "ayam pulang ke kandangnya".
Soal kemerdekaan Indonesia bukanlah satu soal yang terbatas di Indonesia saja, yang dapat dipecahkan dengan perantaraan kongres dan
putusan-putusan yang lembek di Dewan Rakyat, jangan dikata lagi dengan perantaraan kelakar-kelakar ekonomi dan kebudayaan di warung kopi. Soal itu mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan kekuasaan Barat terhadap bangsa berwarna di benua Timur.
Salah satu sebab — dan ini bukan sebab yang terkecil — mengapa Amerika tidak juga memberikan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada orang Indonesia Utara (Filipina) yang menurut perkataan kawan ataupun lawannya telah lama matang (seperti kata surat-surat kabar imperialisme Amerika di Manila) adalah bahwa kemerdekaan Filipina berarti satu pemberontakan dan penyembelihan di Asia melawan kekuasaan
kulit putih (a general re volt in Asiatic countries against white authority, uprising being attended by slaughter). Kelepasan Indonesia (pusat arti
ilmu bumi dan peperangan Asia, penduduk lima kali lebih besar dari Filipina dan dengan perdagangan internasional) mustahil tidak berarti
sebagai satu pistol yang ditujukan kepada kekuasaan Barat terutama Inggris di Asia.
Belum lama ini bekas putra mahkota Wilhelm mene rangkan kepada seorang wakil dari United Press di Locarno yang diumumkan oleh radio
ke seluruh dunia, bah wa bila manusia yang berjuta-juta di Asia pada satu hari bergerak memukul Anglosakson (Inggris, Prancis dan Be landa) niscaya bangsa Melayulah yang pertama kali akan menyebabkan kesusahan. Pengharapan imperialistis dan sindiran macam apakah yang
dimaksud putra mahkota yang senewen itu, bagi kita tetap nyata: bahwa Indonesia sekarang bukan Indonesia pada beberapa tahun yang lalu.
Indonesia telah mengambil tempat yang penting dalam barisan berjuta-juta manusia di Asia.
Karena itu, kemenangan yang diperoleh dengan jalan damai dan parlementer sama sekali tak boleh dipikirkan. Bukankah hal serupa itu tepat
mengganggu ketentraman kapitalis di Timur? Bila suatu hari Indonesia terlepas dan mempertahankan kemerdekaannya dari musuh-musuh dalam
dan luar negeri, tentulah hal tersebut ditentukan oleh kodrat revolusioner, yakni yang disebabkan oleh ak si massa: dari massa dan untuk massa.
Kalau penjajahan Belanda selama 300 tahun itu tidak berupa perampokan (membunuh habis industri bumiputra) niscaya derajat kaum
intelektual kita jauh berbeda dari keadaan sekarang! Dan kita tentulah mempunyai semangat kecerdasan (inteligensia) yang menurut asal,
didikan dan perasaan menjadi pemuka dari tuan-tuan tanah, industri, saudagar dan pegawai bumiputra. Pun juga akan timbul pergerakan
demokrasi dan kemerdekaan nasional yang bersifat kerja sama (kompromis) dengan bangsa Belanda atas pertolongan buruh dan tani seperti di
India, Mesir dan Filipina lebih kurang. Atas ketiadaan kaum modal bumiputra, intelegensia kita tak kuat berdiri. Ia melayang-layang di antara rakyat dengan pemerintah. Ia tidak
mempunyai perasaan ingin mengorbankan diri seperti yang ditunjukkan nasionalis di negeri-negeri lain. Ia tidak mempunyai alat-alat perasaan, pemikiran yang mendekatkan dirinya kepada massa (rakyat murba). Disebabkan imperialis, kaum intelek tual kita jauh dari massa.
Mereka tidak mempunyai satu kesaktian yang dapat mempengaruhi dan menarik hati rakyat. Kaum intelektual kita tidak beroleh kepercayaan
dan simpati massa untuk menggerakkan mereka, membuat aksi-aksi serta memimpin mereka. Tambahan lagi, sebab jumlah kaum terpelajar yang tidak seberapa, mereka masih tinggal di dalam kelas mereka dan belum menjadi buruh terpelajar.
Untuk sementara waktu, dapatlah mereka menonton dari jauh. Lain halnya kalau jumlah mereka banyak, tentulah mereka akan luntang-
lantung dan merasakan kemelaratan sebagai buruh industri dengan penuh "kegembiraan" dalam medan perjuangan.
Kecepatan timbulnya kelas intelektual, kekecewaan terhadap Budi Utomo (B.U.) dan National Indische Party (N.I.P.) serta kekejaman reaksi,
mencakar pemandangan mereka ke jurusan yang lain. Sungguhpun masih sangat lambat dan masih berdiri beberapa pal (1 pal = 1.5 kilometer)
jauhnya dari massa serta dalam keaktifan dan politik terjejer sangat jauh di belakang dibandingkan dengan kelas mereka di lain koloni, tetapi mereka telah mulai bangun dari tidur. "Jubah malaikat" dari Notosoeroto telah dilemparkan mereka, dan mulai bersetuju kepada aksi-aksi revolusioner. Sekarang dari beberapa universitas di negeri Belanda yang jauh itu berdengung-dengung suara mereka hingga kedengaran oleh kaum intelektual yang ada di negeri Indonesia.
Tetapi harapan buruh dan tani di Indonesia tidak cuma persetujuan hati saja dari intelektual itu. Mereka menghendaki perbuatan atau bukti-
bukti.
Selama kaum terpelajar kita melihat bahwa perjuangan kemerdekaan sebagai masalah akademi saja, selama itulah perbuatan-perbuatan yang diharapkan itu kosong belaka. Biarlah mereka melangkah keluar dari kamar belajar menyeburkan diri ke dalam politik revolusioner yang aktif.
Gelombang pemogokan, pemboikotan dan demon strasi yang beralun-alun setiap hari bertambah besar, melalui rapat nasional menuju ke
Federasi Republik Indonesia, inilah jalan mereka, tidak lain!
***************
Download & baca selengkapnya *disini*.
Pengabdi setan (full download)
Film ini dibuka dengan adegan-adegan "pengenalan" yang banyak memberikan informasi kepada penonton mengenai kondisi keluarga, karakter personal para tokoh, serta sejumlah problematika yang mereka alami. Biar begitu, adegan-adegan tersebut tidak terkesan "menggurui". Suasana rumah khas vintage memberikan kesan haunting bahkan sejak menit-menit pertama. Kisah berangsur-angsur menggelap. Kejadian-kejadian tak wajar serta kematian demi kematian, perlahan menggiring penonton ke arah klimaks yang gripping dan penuh teror. Tak lupa, dilengkapi pelintiran yang apik dan mulus menjelang ending. Layaknya film horror pada umumnya, ada banyak jumpscare dalam film ini. Biar begitu, adegan-adegan jumpscare dalam Pengabdi Setan tidak monoton sehingga tidak terkesan "murah". Film ini tak hanya membombardir penonton dengan adegan-adegan mengejutkan, namun juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk mencerna alur dengan baik. Pengabdi Setan memiliki plot yang cukup kuat, Meski ada banyak sosok-sosok menyeramkan dalam film ini, namun tampaknya sosok hantu ibu lah yang paling mengena bagi penonton. "Penciptaan" tokoh ibu yang kini jadi perbincangan banyak orang, menurut saya sangat berhasil. Sosok Ayu Laksmi yang cantik jelita seketika tak dapat dikenali lagi di sini. Bagaimana tidak? Gerak-gerik ibu sudah memberikan kesan sangat seram bahkan sejak beliau diceritakan masih hidup. Selain suara lonceng ibu, suara nyanyian sang ibu yang khas nan mencekam dan terus menerus diputar sepanjang film, juga menambah nuansa kelam pada film. Perpaduan tone visual yang gelap, irama-irama lembut namun menyeramkan, suara-suara yang memekakkan telinga, dan plot detail nan tak terduga semuanya berpadu secara sempurna. Akhir kata, film ini bagus, worth the hype, dan menurut saya memberikan standar baru bagi perfilman horor di Indonesia. Semoga ulasan ini bermanfaat untuk yang sedang mempertimbangkan untuk menonton.
Download full filmnya Disini.
Download full filmnya Disini.
Langganan:
Postingan (Atom)
Judule mbuh
https://youtu.be/A-Q6AnJBSfQ





